Minggu, 14 November 2010

SURAT UNTUK PRESIDEN (kisah ILYAS KARIM pengibar bendera pusaka 45)

krn lg ga ada kerjaan sekitar jam 5 sore td gw nyalain tv
krn jarang nntn tv, jd gw ga tau jadwal2 acara tv yg bagus jam segini akhirnya gw gonta ganti deh tu channel tv. pas liat TV One, diliat dr judulnya, kayanya ada tontonan menarik nih. ternyata bukan menarik lagi, tp jd miris gan ngeliatnya

jd tayangan itu judulnya "Surat Untuk Presiden"
episode kali ini sedang mengulas Ilyas Karim, seorang veteran pejuang Siliwangi yang juga merupakan pengibar bendera merah putih untuk pertama kalinya

di tayangan itu Beliau bercerita bagaimana ia bisa menjadi pengibar sang saka merah putih bersama Sudanco. Selain itu ternyata beliau juga dipilih sebagai pasukan perdamaian dunia yang telah dikirim ke negara Lebanon, Kongo, dan satu lagi maap gw lupa
Beliau dikirim bersama pasukannya yang bernama Pasukan Siliwangi. Beliau juga menceritakan bahwa Beliau sendirilah yang memberi nama pasukan tersebut Pasukan Siliwangi.

Setelah Beliau mengakhiri masa tugasnya sebagai tentara, Ilyas Karim bersama puluhan pejuang lainnya menempati Asrama Siliwangi yang bertempat di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Beberapa tahun kemudian asrama itu digusur oleh Soeharto (ketika itu Soeharto sudah menjabat sebagai Presiden RI). Namun, penghuni asrama tersebut tidak diberi penggantian lahan tempat tinggal. Jadi setelah digusur ada beberapa veteran yang pulang kampung, dan yang lainnya pindah ke Bandung, daerah Taman Makam Pahlawan, dan ada juga yang pindak ke daerah Kalibata.
Ilyas Karim memilih untuk pindah ke Kalibata. ini dia gan yang miris
ternyata tempat tinggal Ilyas Karim terleteak di pinggir rel kereta api di daerah Kalibata

Kini Beliau tinggal disana bersama istrinya (mungkin ) soalnya terlihat di tayangan, di dalam rumahnya ia bersama seorang wanita yang seumuran lah sama bapak Ilyas karim.
Sekarang Ilyas Karim bekerja di Yayasan Siliwangi, bidang sosial. Dengan pensiunan sekitar Rp1.300.000/bln pastinya pas2an banget untuk hidup di daerah Ibukota jaman sekarang
Di umur yang sudah lanjut ini, Beliau juga masih dihantui rasa takut, sebab kabarnya rumahnya yang sekarang ditinggali, akan digusur oleh pemerintah Jakarta. Beliau sudah tidak tau lagi kemana Beliau akan pergi setelah rumahnya digusur nanti

Itu baru 1 dari sekian banyak kisah kehidupan masa tua para veteran pejuang negara kita gan pastinya masih banyak lagi veteran yang bernasib ga jauh beda dari yang dialami Ilyas Karim ini
Kenapa ga ada upaya2 dari pemerintah untuk membuat hidup mereka jadi lebih layak sih? Padahal tanpa mereka, kemerdekaan mungkin tidak terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945

sedih banget gan ngeliatnya
mudah2an ada aparat negara yg baca tulisan ini deh ya, agar mata mereka terbuka lebaarr dan tersadar bahwa masih banyak veteran2 kemerdekaan yang masih kurang layak kehidupan masa tuanya.


* * * * * * * * *

Spoiler for kisah pengibar bendera pusaka 45:

Merah Putih tak akan berkibar 64 tahun yang lalu tanpa peran petugas pengibarnya. Jika sudah demikian, tak akan pula bangsa ini menikmati kemerdekaannya.Tidak banyak yang mengenal sosok pengibar Sang Saka Merah Putih saat dibacakannya teks Proklamasi pada 17 Agustus 1945. Padahal, fotonya mudah ditemui di berbagai buku sejarah. Pria bercelana pendek itu tak lain Ilyas Karim.

Ilyas kini aktif sebagai Ketua Yayasan Pejuang Siliwangi Indonesia, sebuah perkumpulan veteran, merupakan satu-satunya saksi sejarah detik-detik proklamasi yang masih hidup. Kehidupan Ilyas yang pernah andil dalam berbagai misi penumpasan pemberontakan kurang mendapat perhatian pemerintah. Ia memang tidak mencari pengakuan penuh, tapi itu sudah seharusnya didapat pria yang juga pernah ikut dalam misi perdamaian Garuda II di Kongo, pada 1961 silam. “Dia (pemerintah) tahu, kami berjuang,” ujar Ilyas kecewa.

Meski demikian, Letnan Kolonel Purnawirawan ini tak ingin menuntut banyak. Ilyas hanya ingin menghabiskan masa tuanya dengan melihat kemerdekaan rakyat Indonesia. Ia berharap, generasi muda mau menghargai perjuangan para pahlawan dengan mengisi hidup lebih baik lagi. Kisah Hidup Ilyas Karim Sang Pengibar Bendera Pusaka Di usianya yang ke-81, pria sepuh itu masih tetap menikmati hidupnya di pinggir rel Kalibata, Jakarta Selatan.

Pria yang kini menderita stroke mata itu seharusnya bisa hidup lebih layak. Sebab, pria bernama Ilyas Karim adalah pelaku sejarah penting. Dialah pengibar pertama Sang Saka Merah Putih pada 17 Agustus 1945 lalu. Anda tentu pernah melihat foto upacara pengibaran Bendera Merah Putih pertama kali di Jalan Pegangsaan Timur Jakarta Pusat. Di foto itu tampak dua orang pengibar bendera yang dikelilingi oleh Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta, Ibu Fatmawati, dan SK Trimurti. Pemuda pengibar bendera yang bercelana pendek itulah Ilyas Karim.

Saat ini Ilyas tinggal di sebuah rumah sederhana di Jl. Rawajati Barat, Kalibata, Jakarta Selatan, bersebelahan dengan rel kereta api, Selasa (12/8/2008) kemarin, Ilyas masih tampak bugar. Meski gerak badannya tidak segesit dulu, namun dia tidak tampak bungkuk ataupun tergopoh ketika berjalan. Ilyas menceritakan pengalamannya sebagai pengibar bendera Merah Putih pertama di republik ini. Waktu itu, Ilyas adalah seorang murid di Asrama Pemuda Islam (API) yang bermarkas di Menteng Jakarta Pusat. Malam hari sebelum dibacakan proklamasi kemerdekaan RI, Ilyas beserta 50-an teman dari API diundang ke rumah Soekarno di Pegangsaan Timur No. 56. “Katanya ada acara gitu,” tutur Ilyas. Saat berkumpul di rumah Soekarno itulah Sudanco (Komandan Peleton) Latief menunjuknya untuk menjadi pengibar bendera di acara proklamasi kemerdekaan keesokan harinya. Satu orang pengibar yang lain yang ditunjuk adalah Sudanco Singgih, seorang tentara PETA. “Saya ditunjuk karena paling muda. Umur saya waktu itu 18 tahun,” kata Ilyas.

Ilyas menceritakan pengalaman itu dengan penuh semangat. Matanya yang harus diplester agar tidak terpejam tampak berbinar. Ilyas memang menderita stroke mata. Dokter menganjurkannya untuk memlester kelopak matanya agar tidak terpejam. Sudah berbagai upaya pengobatan ditempuhnya namun belum juga membuahkan hasil. Meski dengan sakitnya itu, Ilyas tetap aktif beraktivitas. Sejak tahun 1996 dia menjabat sebagai Ketua Pengurus Pusat Yayasan Pejuang Siliwangi Indonesia yang memiliki cabang di 14 propinsi, antara lain di Medan, Riau, Jambi, Palembang, Banten, dan Ambon. Yayasan itu sendiri bergerak di bidang sosial. Kegiatannya antara lain penyantunan anak yatim, pembangunan rutempat ibadah, dan penyantunan orang jompo.

Ilyas lahir di Padang, Sumbar. Dia sekeluarga baru menetap di Jakarta pada 1936. Ayahnya dulu seorang camat di Matraman. Di zaman penjajahan Jepang, ayahnya dibawa ke Tegal dan dieksekusi tentara Jepang. Sejak saat itu, Ilyas menjadi yatim. Setelah pengibaran Sang Saka Merah Putih itu, Ilyas kemudian menjadi tentara. Pada 1948, Ilyas dan sejumlah pemuda di Jakarta diundang ke Bandung oleh Mr Kasman Singodimejo. Di Bandung, dibentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Kesatuan tentara ini kemudian ini nama Siliwangi. Nama Siliwangi merupakan usul dari Ilyas. Sebagai tentara, Ilyas pernah diterjunkan di sejumlah medan pertempuran di berbagai daerah, termasuk ditugaskan sebagai pasukan perdamaian di Libanon dan Vietnam. Pada 1979, Ilyas pensiun dengan pangkat letnan kolonel. Kehidupannya mulai suram, karena dua tahun kemudian dia diusir dari tempat tinggalnya di asrama tentara Siliwangi, di Lapangan Banteng, Jakpus. Sejak saat itu hingga saat ini dia tinggal di pinggir rel KA.

Uang pensiunan bagi para veteran ini bervariasi, dari Rp 500 ribu hingga Rp 1,5 jutaan. Setiap akhir bulan Ilyas kerap berjumpa sesama teman veteran saat mengambil uang pensiun. ”Tinggal di mana sekarang? Sudah punya rumah?” tanya Ilyas suatu waktu kepada rekannya. Yang ditanya menjawab sekenanya,”Boro-boro rumah. Saya masih kos di Condet,” Ilyas menirukan. Sejak 1995 Ilyas adalah Ketua Umum Yayasan Pejuang Siliwangi Indonesia yang bermarkas di Jl Proklamasi. Inilah kerja ngantor yang dilakoninya saban hari. Di usianya yang 80 tahun, dengan kedua bola matanya yang didera stroke, ia harus naik turun kereta api dari stasiun Kalibata hingga Cikini. Berjejal-jejalan.

Tak pernah lupa Ilyas mengenakan pin veteran 1945 di dada kirinya. Inilah yang menyelamatkan dia dari omelan kondektur atau petugas tiket KA. Mereka tak berani menagih ongkos KA. ”Mereka tahu veteran enggak ada duitnya,” kata dia kembali terkekeh. Toh, ia mengaku menikmati hari-harinya. Bagi dia,”Yang penting adalah badan sehat. Dan, enggak menyusahkan orang.”


Spoiler for Digusur, Pejuang Ilyas Karim Tagih Janji Foke dan SBY:

Jakarta - Ada nada geram pada suara Ilyas ketika menyinggung nama Gubernur DKI Fauzi Bowo alias Foke. Sebab, dengan telinga sendiri Ilyas mendengar Foke berkampanye di lapangan Rawajati di dekat rumahnya. Waktu itu Foke mengatakan kalau dirinya menang akan memperhatikan nasib rakyat kecil.

"Tolonglah bantu saya. Kalau dibantu saya akan bantu rakyat kecil," kata Ilyas menirukan suara Foke ketika kampanye di Lapangan Rawajati menjelang pemilihan Gubernur DKI 2007.

Betapa pedih hati Ilyas saat tahu bahwa orang yang mengeluarkan janji itu justru adalah orang yang membuat kebijakan untuk mengusirnya dari rumah yang telah ditanggalinya selama 23 tahun. Ilyas diberi waktu hingga akhir 2008 untuk menempati rumah kecilnya di Jl. Rawajati Barat, Kalibata, Jakarta Selatan. Setelah itu, Ilyas harus pergi, entah kemana.

"Pesan saya untuk Fauzi Bowo, tepatilah janji kamu," kata Ilyas dengan nada agak berapi-api saat ditemui detikcom, Selasa (12/8/2008).

Pesan serupa dia kumandangkan untuk SBY. Menurut Ilyas, dulu menjelang Pemilu Presiden 2004 SBY pernah menemuinya. SBY meminta Ilyas membantunya berkampanye dengan memanfaatkan jaringannya sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Yayasan Pejuang Siliwangi Indonesia yang memiliki cabang di 14 provinsi, antara lain di Medan, Riau, Jambi, Palembang, Banten, dan Ambon. Waktu itu SBY berjanji akan memperhatikan nasib para pejuang jika dia menjadi presiden.

"Dia mengatakan akan memperhatikan nasib para pejuang," kata Ilyas yang merupakan pengibar pertama bendera Sang Saka Merah Putih pada 17 Agustus 1945 lalu.

Namun betapa kecewanya Ilyas ketika janji yang telah dikeluarkan SBY tidak ditepati. Dia bersama teman-teman seperjuangannya tidak mendapat perhatian yang layak dari pemerintah. Satu-satunya perhatian nyata barangkali adalah jatah uang pensiunan sebesar Rp 1,5 juta yang rutin diterimanya tiap bulan. Selain itu, nihil.

"Pejabat pemerintah tidak perhatian sama sekali kepada kami para pejuang," keluh Ilyas.

Ketika ditanya mengapa tidak mengajukan permohonan ke pemerintah, Ilyas hanya menjawab, "Pemerintah otaknya otak batu. Gimana mau ngajukan? Percuma saja.


source: http://www.kaskus.us/showthread.php?t=5931966 & http://www.kaskus.us/showthread.php?t=5931929

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jangan cuma jadi pembaca, utarakan pendapatmu!