Minggu, 22 Agustus 2010

Johny Setiawan, Astronom Muda Indonesia yang Mendunia

http://bukanisapanjempol.blogspot.com/
Dr. rer. nat. Johny Setiawan

Indonesia patut berbangga memiliki astronom muda yang diakui dunia karena prestasi-prestasinya di bidang ilmu astronomi. Dia tercatat sebagai penemu 10 planet baru bersama rekan-rekan teamnya yang lain pada tata surya hydrae.

Pria ini bernama Johny Setiawan, dan saat ini ia bekerja di Max Planck Institute for Astronomy (MPIA), Jerman. Dan yang lebih hebatnya lagi, dia adalah satu-satunya ilmuwan non-Jerman (alias WNI) dalam penemuan tersebut, yang dipercaya menjadi ketua dalam team proyek tersebut.


Profile Singkat


Berikut adalah profile singkat yang secara khusus diambil dari biodata di MPIA dan sumber2 lainnya :


http://bukanisapanjempol.blogspot.com/


Di Jerman, Dr. rer. nat. Johny Setiawan sangat mudah dikenali. WNI yang sudah 17 tahun tinggal di Jerman ini selalu tampil plontos, bercelana pendek, dan kaus tanpa lengan. Sandal jepit juga selalu menemani langkahnya. Padahal, profesi dan prestasinya tak main-main, yakni astronom dan penemu lebih dari sepuluh planet baru. Johny Setiawan memakai baju formal jika ada acara resmi saja. Begitu acara selesai, dia langsung ganti baju dengan setelan andalannya tersebut.


Meski telah 17 tahun merantau ke negeri Jerman, Johny masih fasih berbahasa Indonesia. Bukan hanya itu, pria kelahiran Jakarta, 16 Agustus 1974 (35 tahun) tersebut, mengaku selain bahasa Indonesia, beliau telah menguasai empat bahasa lainnya dengan lancar, yakni Inggris, Spanyol, Prancis, dan Jerman. Masa kecilnya dihabiskan di Jakarta, lebih tepatnya di daerah bintaro.


Johny menamatkan S-1 dan S-3-nya di Freiburg, Jerman. Penyajian dosen yang menarik, ditunjang fasilitas yang lengkap, membuat Johny maniak dengan segala sesuatu yang terkait astronomi. Karena itu, dia tercatat sebagai lulusan termuda di Albert-Ludwigs-Universitat, Freiburg, Jerman. Di universitas yang sama, Johny meraih gelar S-3, dan menjadi ilmuwan postdoctoral di Departemen Planet dan Formasi Bintang Max Planck Institute for Astronomy (MPIA).



Ketertarikan pada Astrnomi

Awal ketertarikan Johny pada astronomi dan bercita-cita menjadi Astronom, adalah ketika ayahnya mulai sering mengajaknya ke atap rumah untuk melihat bintang-bintang tiap petang. “Saat itu di Jakarta masih bisa lihat bintang tiap malam, karena langitnya masih bersih, tidak seperti sekarang,” jelasnya.

Kebiasaan inilah yang membangkitkan minatnya akan ilmu astronomi. “Waktu itu ayah saya sering bercerita yang aneh-aneh tentang bintang-bintang tersebut. Dia juga memberi nama aneh-aneh pula. Setelah saya dewasa, saya baru tahu bahwa apa yang dibicarakan ayah dulu salah semua,”
terangnya kembali mengingat masa indah saat bersama ayahnya dulu.

(tapi salut sama ayahnya… )

Meski mengidamkan profesi astronom, Johny mengakui sejak kecil justru tidak terlalu suka dengan pelajaran fisika yang menjadi elemen penting dalam ilmu tersebut. Menurut dia, banyak pertanyaan di fisika yang aneh-aneh dan cenderung tidak perlu. Saat itu dia malah lebih suka pelajaran sejarah, dia suka sekali menghafalkan sejarah-sejarah kerajaan dan tahun-tahun berdiri sekaligus runtuhnya kerajaan tersebut.


Beberapa Temuannya

Sejak mengamati bintang-bintang di jagat raya, dia telah menemukan lebih dari 10 planet. Lima di antaranya sudah dipublikasikan, sementara yang lain dalam tahap penelitian. Planet-planet tersebut di antaranya, adalah planet yang dinamai HD 47536c, HD 110014b, dan HD 110014c, dan akan dipublikasikan tahun depan dalam jurnal astronomi.

Namun, dari sekian banyak temuannya, yang paling berkesan adalah planet TW Hydrae b. Pasalnya, itu satu-satunya planet temuannya yang tidak menggunakan angka-angka seperti yang lain. Planet itu adalah planet termuda yang dia temukan. Planet ini juga dalam kontroversi, karena masih banyak yang belum percaya akan pembuktian adanya planet ini secara tidak langsung.

bintang tw hydrae

Selain itu, Penemuan planet extrasolar-nya (planet di luar sistem tata surya), dipublikasikan dalam majalah Nature pada 4 Januari 2008. Sebelumnya, team astronom dari MPIA yang diketuainya berhasil menemukan sistem extrasolar termuda plus dengan metode variasi kecepatan radialnya.

Temuan bintang muda dan pleanetnya menjadi begitu penting, karena dari situ kita bisa tahu awal mula tata surya dan pembentukan planet-planet yang mengitarinya. Pencarian planet pada bintang muda menjadi penting, karena tidak lepas dari masalah aktivitas bintang, bintang di usia yang masih muda permukaannya masih tidak stabil.


Penemuan TW Hydra b justru memberi angin segar dan bukti pertama dalam dunia teori pembentukan planet. Jika didasarkan pada studi statistik, masa hidup piringan antar bintang rata-rata sekitar 10-30 juta tahun. Ini menunjukan, kalau waktu maksimum yang tersedia untuk terbentuknya planet hanya sampai 30 juta tahun. Dengan demikian TW Hydra b terbentuk dalam waktu yang sangat singkat hanya pada kisaran 8 – 10 juta tahun.

Johny Setiawan di labnya

Sebagai Ilmuawan di bidang astronomi, ia juga aktif dalam publikasi jurnal ilmiah. Tercatat dari data telah lebih dari 30 jurnal yang telah dibuatnya.


Aktivitas Diluar Ilmuwan


1. Koki Masakan Indonesia

Meski jauh dari tanah air, itu tidak membuat Johny lupa akan Negaranya. Untuk mempromosikan Indonesia sekaligus menyalurkan hobinya, dia membuka katering masakan Indonesia. "Saya kan suka masak, dan bisa masak hampir semua masakan tradisional Indonesia, serta beberapa masakan internasional,'' terangnya.

Dapat dilihat-lihat di profilenya, Other activites & hobbies : Cooking (semiprofessional).

Sudah Ilmuwan, Koki semiprofesional pula. Salut dech !


2. Aktivis Sosial

Kalau yang ini dapat dilihat dari foto-foto berikut ini :







http://bukanisapanjempol.blogspot.com/
Aktivitas Sosial Johny Setiawan

Dalam aktivitas sosialnya, ia sering mengadakan penggalangan dana lewat sesama ilmuwan atau dengan mengadakan gourmet meeting.


3. Speaker Seminar

Pada tahun 2008 diselenggarakan Asian Science Camp di sanur, Bali. Pertemuan ini dihadiri para siswa peraih medali olimpiade fisika dan kimia internasional, dari Indonesia, dan negara Asia lainnya. Mereka berkesempatan mendengarkan presentasi dan berdialog dengan lima peraih nobel dan ilmuwan dunia, dengan Johny Setiawan pula tentunya.
Para peraih nobel itu, adalah Yuan Tseh Lee (Nobel Kimia, 1986), Richard Robert Ernst (Nobel Kimia, 1991), Douglas Osheroff (Nobel Fisika, 1996), Masatoshi Koshiba (Nobel Fisika, 2002), dan David Gross (Nobel Fisika, 2004).

Di acara tersebut, dia mempresentasikan makalah berjudul astronomy : "A culture, science, and philosophy for the humanity dan search for life in other solar systems."

Foto-fotonya pada seminar-seminar :







Dia sangat “concern” sekali dalam pengembangan generasi muda, karena generasi muda sekaranglah yang nantinya diharapkan bisa membuat hidup lebih baik bagi semua masyarakat dan bangsa Indonesia.

Ini merupakan bukti nyata misinya yang ingin terus mengkomunikasikan ilmu pengetahuan dengan masyarakat umum. Baginya, ini adalah hal yang begitu penting, karena disana akan terdapat komunikasi yang bersifat vertikal, jadi tidak hanya horizontal saja sesama peneliti. Ilmu pengetahuan akan jadi lebih berarti dalam hidup bila membantu masyarakat tumbuh lebih baik secara kualitas, sehingga efeknya bagus untuk “human survival” yang lebih baik pula.


Pesan Johny Setiawan untuk para generasi muda Indonesia,"Percaya atau tidak, Indonesia di bidang astronomi jauh lebih unggul daripada negara-negara tetangga kita yang "kaya", seperti Singapura, Malaysia, dan Brunei. Be proud, bro !!!"


sumber: http://siradel.blogspot.com/2010/08/johny-setiawan-astronom-muda-indonesia.html

2 komentar:

  1. ini patut di contoh untuk seluruh generasi muda Indonesia..
    Salam kenal ;)

    BalasHapus
  2. Wah salut untuk Mas Johny. Semoga kariernya semakin cemerlang sehingga orang akan melihat SDM Indonesia adalah SDM yang bermutu.

    BalasHapus

Jangan cuma jadi pembaca, utarakan pendapatmu!