Sabtu, 05 Juni 2010

Film Indonesia Dari Masa ke Masa


Menonton film merupakan salah satu aktifitas yang kerap kita lakukan untuk mengisi waktu luang. Refreshing sedikit setelah lelah beraktifitas, entah itu sekolah, kuliah, les, dan sebagainya. Tapi, pernahkah kamu terpikirkan bagaimana sih film Indonesia dari zaman dahulu kala hingga kini?

Nah, berdasarkan informasi yang inioke dapatkan, pertunjukan film Indonesia itu sudah dikenal orang pada tahun 1990. Katanya, pada zaman itu, iklan-iklan bioskop sudah terpajang di media-media cetak. Namun, pembuatan film baru dikenal pada tahun 1910-an. Tapi, film yang dibuat belum seperti film-film yang banyak beredar kini. Pada tahun itu, pembuatan film baru sebatas film dokumenter, film berita, atau pun film laporan. Sedangkan, pembuatan film cerita baru dimulai di Bandung pada 1926.



Tahun 1926 itu, pembuatan film cerita dimulai oleh Kruger. Ini merupakan film pertama yang dibuat di Indonesia, sebuah film bisu berjudul Loe-toeng Kasaroeng. Film ini dibuat oleh Perusahaan Film Jawa NV di Bandung. Pertama kali ditayangkan adalah pada tanggal 31 Desember 1926 di teater Elite and Majestic, Bandung.


Semasa itu, film Indonesia mengalami masa yang berat. Bayangkan saja, film Indonesia ketika itu harus bersaing dengan film-film luar yang sudah maju. Bioskop-bioskop masih didominasi oleh film import. Sedangkan film Indonesia masih mencari-cari apa yang diinginkan publik ketika itu.


Dua tahun kemudian berdirilah perusahaan film cerita di Jakarta, TAN'S FILM. Hal ini dikarenakan pada tahun itu muncul Wong Brother's asal Shanghai, Cina. Kemunculan ini menarik pengusaha Cina lainnya untuk mengembangkan industri perfilman.
Film bersuara pertama kali diputar di Indonesia pada tahun 1929. Itu pun adalah film Amerika. Hal ini menyemangati para pembuat film Indonesia. Mereka bahkan membikin sendiri peralatan untuk pembuatan film bersuara itu. Meskipun kualitasnya belum begitu bagus, tetapi kita patut bangga karena Indonesia yang pertama kali membikin film bersuara di Asia.


Nyai Dasima, tahun 1931 dibuat di Jakarta, dan merupakan film bersuara pertama. Kemudian disusul oleh Zuzter Theresia pada tahun 1932 di Bandung.


Nah, ketika inilah mulai film Indonesia menggeliat. Hal ini dikarenakan belum ada penerjemah kata asing dalam film dengan teks. Alhasil, film Indonesia lebih diterima oleh penonton kita. Meskpun suaranya sedikit berisik pada waktu itu, penonton tetap setia dengan film Indonesia.

Jika kembali melancong pada masa 1980-an, teringat kita akan kejayaan film Indonesia. Semasa itu, bioskop-bioskop diwarnai oleh film-film Indonesia. Menjadi raja di negerinya sendiri. Ingat, kan, kalau pada masa itu film yang terkenal adalah Catatan si Boy, Blok M, dan lain sebagainya. Aktor dan aktris muda remaja yang terkenal masa itu adalah Onky Alexander, Meriam Bellina, Nike Ardilla, Paramitha Rusady, dan banyak lagi artis lainnya.

Namun, pada era 90-an, perfilman Indonesia tak lagi menjadi raja di rumahnya sendiri. Film-film asal Hollywood dan Hongkong telah mencuri perhatian penonton.


Hingga muncul film Petualangan Sherina pada awal abad baru. Film yang dibintangi Sherina Munaf ini merupakan film musikal konsumsi anak-anak. Kebangkitan film Indonesia besutan Riri Riza dan Mira Lesmana ini ditandai oleh antrean panjang penonton.

Lalu, muncul pula film horor, Jelangkung, yang cukup lama mendominasi bioskop-bioskop Indonesia. Lagi-lagi film remaja, muncul pula Ada Apa dengan Cinta yang mempopulerkan Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra. Sejak itu, mulai bermunculan satu-persatu film-film dengan genre yang sama. Misalnya, film Joshua, Di Sini Ada Setan, Tusuk Jelangkung, Biarkan Bintang Menari, Effeil I'm in Love. Namun, ada pula yang agak berbeda, yaitu film karya Nia Dinata berjudul Arisan!


Film-film komersil tersebut dibarengi pula dengan film-film non-komersil. Pasir Berbisik, misalnya, yang dibintangi Dian Sastrowardoyo, Christine Hakim, dan Didi Petet. Film ini meraih beberapa penghargaan. Selain itu, ada pula film Daun di Atas Bantal yang juga diperankan oleh Christine Hakim. Kebangkitan film Indonesia mulai ramai, apalagi Garin Nugroho turut membikin film Aku Ingin Menciummu Sekali Saja. Beth, Novel tanpa huruf R, Kwalitet 2, juga menghiasi bioskop-bioskop Indonesia. Sejak saat itu, masyarakat Indonesia sudah menganggap film Indonesia pantas dijadikan pilihan selain film-film Hollywood.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jangan cuma jadi pembaca, utarakan pendapatmu!